Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Pengadilan & MA

FORSIMEMA Soroti Perpaduan Budaya dan Inovasi dalam Kepemimpinan I Wayan Gede Rumega di PN Makassar

×

FORSIMEMA Soroti Perpaduan Budaya dan Inovasi dalam Kepemimpinan I Wayan Gede Rumega di PN Makassar

Share this article
Example 468x60

JAKARTA — Kepemimpinan di lingkungan peradilan tidak hanya berbicara mengenai penerapan aturan dan administrasi. Bagi Forum Silaturahmi Media Mahkamah Agung (FORSIMEMA), pendekatan humanis, budaya, serta kreativitas juga dapat menjadi bagian penting dalam membangun tata kelola lembaga peradilan.

Pandangan tersebut disampaikan Ketua Umum FORSIMEMA, Syamsul Bahri, saat memberikan apresiasi terhadap kiprah I Wayan Gede Rumega, S.H., M.H., saat memimpin Pengadilan Negeri (PN) Makassar.
Menurut Syamsul, salah satu hal yang menarik dari kepemimpinan I Wayan Gede Rumega adalah kemampuannya memadukan nilai budaya, sentuhan seni, dan prinsip tata kelola pemerintahan dalam membangun lingkungan kerja di PN Makassar.

Example 300x600

Pendekatan tersebut, kata dia, terlihat dalam upaya mendorong PN Makassar menjadi satuan kerja yang berorientasi pada pembangunan Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

“Yang menarik dari kepemimpinan beliau adalah bagaimana seni, budaya dan tata kelola modern dapat berjalan beriringan. Pendekatan seperti ini memberikan warna tersendiri dalam membangun lingkungan peradilan yang humanis,” ujar Syamsul dalam keterangannya, Rabu (23/9/2026).
Ketika Budaya Menjadi Bagian dari Tata Kelola
Syamsul menilai keberadaan nilai-nilai budaya lokal dapat menjadi salah satu instrumen dalam membangun karakter organisasi.

Dalam konteks PN Makassar, menurut dia, nilai Siri’ na Pacce yang dikenal dalam budaya masyarakat Makassar dapat dipertemukan dengan nilai keharmonisan dalam filosofi Bali Tri Hita Karana.
Perpaduan tersebut dinilai dapat menjadi pendekatan kultural dalam membangun etika, kebersamaan, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap masyarakat yang datang mencari keadilan.

“Bagi kami, budaya bukan sekadar ornamen. Nilai budaya dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter dan etika organisasi ketika diterapkan secara tepat dalam lingkungan kerja,” katanya.

BerAKHLAK Tak Berhenti sebagai Slogan
FORSIMEMA juga menyoroti penerapan nilai dasar BerAKHLAK, yakni Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif.

Syamsul menyebut nilai tersebut penting diterjemahkan ke dalam praktik pelayanan dan perilaku kerja sehari-hari, bukan sekadar menjadi jargon administratif.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah pelayanan kepada masyarakat melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Pelayanan yang cepat, transparan, informatif, dan memberikan rasa nyaman dinilai menjadi bagian penting dari wajah lembaga peradilan di hadapan publik.
“Pelayanan publik merupakan wajah pertama lembaga peradilan. Karena itu, kenyamanan, transparansi dan kemudahan akses masyarakat harus menjadi perhatian,” ujarnya.

Membangun Integritas Bersama
Dalam membangun Zona Integritas, Syamsul mengatakan penguatan integritas tidak dapat dilakukan oleh pimpinan seorang diri. Dibutuhkan keterlibatan seluruh aparatur serta dukungan para pemangku kepentingan.
Ia menilai upaya pencegahan gratifikasi, pungutan liar, serta berbagai bentuk penyimpangan membutuhkan sistem yang jelas sekaligus budaya organisasi yang konsisten.
Pendekatan kolaboratif tersebut, menurut FORSIMEMA, dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap institusi peradilan.

Legacy bagi Lingkungan Peradilan
FORSIMEMA berharap pengalaman kepemimpinan I Wayan Gede Rumega di PN Makassar dapat menjadi bahan pembelajaran bagi lingkungan peradilan, khususnya dalam mengembangkan tata kelola yang menggabungkan integritas, pelayanan publik, inovasi, dan kearifan lokal.
“Kami melihat ada sebuah pesan penting, bahwa membangun lembaga peradilan tidak hanya membutuhkan sistem yang baik, tetapi juga kepemimpinan yang mampu menyatukan manusia, budaya dan tujuan organisasi,” kata Syamsul.

Ia menambahkan, apresiasi tersebut merupakan bentuk penghargaan atas upaya dan gagasan yang telah dilakukan selama kepemimpinan I Wayan Gede Rumega di PN Makassar.

“Semoga berbagai praktik positif yang pernah dibangun dapat terus menjadi inspirasi bagi insan peradilan untuk melakukan inovasi, memperkuat integritas, dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” tuturnya.

Sumber : Syamsul Bahri
Ketua Umum FORSIMEMA

Loading

Example 300250
Spread the love
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *