BEKASI — Dua pekan tanpa kepastian air bersih membuat warga Perumahan Mutiara Gading City, Desa Babelan Kota, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, mulai kehilangan kesabaran.
Sejak 26 Juli hingga 9 Agustus 2026, warga di sejumlah lingkungan RW 017 mengaku harus menghadapi aliran air yang kerap mati dan kualitas air yang disebut keruh. Persoalan itu dirasakan warga RT 001, RT 002, dan RT 003.
Di tengah kebutuhan air untuk mandi, mencuci, memasak, dan aktivitas rumah tangga lainnya, warga mempertanyakan kualitas pelayanan PDAM Tirta Bhagasasi Kabupaten Bekasi.
Keluhan warga bahkan tidak berhenti pada gangguan distribusi. Mereka juga mempertanyakan kondisi jaringan perpipaan, pemeliharaan instalasi, hingga kecepatan respons petugas ketika laporan gangguan disampaikan.
Keluhan Menumpuk, Kepuasan Jatuh
Berdasarkan survei yang dilakukan awak media Purnamanews.com, sebanyak 86 warga dari RT 001, RT 002, dan RT 003 RW 017 menjadi responden.
Hasil survei menunjukkan seluruh responden, atau 100 persen, menyatakan sangat tidak puas terhadap pelayanan PDAM Tirta Bhagasasi Kabupaten Bekasi.
Angka tersebut tentu perlu dibaca sebagai potret persepsi warga yang menjadi responden survei, bukan sebagai penilaian keseluruhan pelanggan PDAM. Namun, jika melihat lamanya gangguan dan beragam keluhan yang disampaikan, persoalan pelayanan air di kawasan tersebut tampak bukan lagi perkara sepele.
Ketua RT 002 RW 017, Wawan, mengatakan warga menghadapi persoalan air keruh dan aliran yang berulang kali terhenti.
“Air keruh, sering mati, namun respons dan tindakan PDAM lambat dalam antisipasi.”
Petrus, warga RT 002, meminta adanya pembenahan dalam tata kelola pelayanan.
“Harus berbenah untuk perubahan lebih baik.”
Sementara Prima menekankan satu hal yang paling dibutuhkan warga ketika terjadi gangguan: kepastian.
“Kita butuh kepastian yang pasti, air mati dan kotor.”
Bukan Sekadar Air Mati
Bagi warga, persoalan air tidak semata-mata tentang keran yang berhenti mengalir.
Ketika distribusi terganggu, aktivitas rumah tangga ikut terdampak. Ketika air kembali mengalir tetapi kondisinya keruh, warga kembali dihadapkan pada kekhawatiran mengenai penggunaannya.
Keluhan juga diarahkan pada infrastruktur jaringan.
Ketua RT 003 RW 017, Angga, mengaku mempertanyakan pemeliharaan saluran dan jaringan pipa PDAM di kawasan tersebut.
“Pihak PDAM Tirta Bhagasasi Kabupaten Bekasi tidak pernah membersihkan pulp saluran air dan saluran pipa banyak yang bocor.”
Warga lainnya, Ika, menyoroti hubungan antara kewajiban pelanggan dan kualitas layanan yang diterima.
“Kita lakukan pembayaran lancar, giliran telat dikenakan denda sama PDAM.”
Andi S bahkan melontarkan kritik keras terkait kualitas air dan biaya yang harus dikeluarkan pelanggan.
“Air kobokan, kita bayar mahal.”
Pernyataan-pernyataan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara ekspektasi pelanggan terhadap layanan air bersih dan pengalaman yang mereka rasakan di lapangan.
PDAM Ditunggu Jawabannya
Untuk menguji keluhan tersebut dari sisi penyedia layanan, awak media Purnamanews.com mendatangi Kantor PDAM KCP Setia Asih pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Di kantor tersebut, awak media bertemu dengan staf berinisial F. Namun, informasi mengenai penyebab gangguan dan langkah penanganan belum dapat diperoleh karena Manager PDAM KCP Setia Asih, Iwan, disebut sedang tidak berada di kantor.
Hingga berita ini diterbitkan pada Senin, 10 Agustus 2026, belum ada keterangan resmi dari PDAM KCP Setia Asih-Babelan Kota mengenai keluhan warga tersebut.
Belum diketahui secara pasti penyebab gangguan distribusi air, apakah berkaitan dengan persoalan jaringan, kebocoran pipa, kualitas sumber air, gangguan teknis, atau faktor lainnya.
Karena itu, penjelasan dari PDAM menjadi bagian penting dalam pemberitaan ini. Warga perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, berapa lama perbaikan dilakukan, serta kapan pelayanan kembali normal.
Menunggu Air, Menunggu Kepastian
Krisis air bersih di Mutiara Gading City pada akhirnya menghadirkan pertanyaan yang lebih besar tentang pelayanan publik.
Pelanggan membayar tagihan. Penyedia layanan memiliki kewajiban memberikan pelayanan. Ketika distribusi terganggu selama berhari-hari, komunikasi dan respons menjadi sama pentingnya dengan perbaikan teknis di lapangan.
Warga tidak hanya menunggu air kembali mengalir.
Mereka menunggu kepastian.
Kepastian bahwa air yang keluar dari keran bersih, distribusinya dapat diandalkan, jaringan dipelihara, dan setiap keluhan pelanggan mendapatkan respons yang cepat.
Sampai kepastian itu datang, keran-keran di Mutiara Gading City akan terus menjadi saksi dari satu pertanyaan warga: sejauh mana hak pelanggan atas pelayanan air bersih benar-benar dipenuhi?



















